psikologi nostalgia

mengapa masa lalu terasa lebih lambat dan nyaman

psikologi nostalgia
I

Pernahkah kita tanpa sengaja mendengarkan sebuah lagu dari era 2000-an, lalu tiba-tiba dada kita terasa hangat? Seketika, kita seolah terlempar kembali ke masa sekolah. Udara sore terasa lebih sejuk. Hidup sepertinya jauh lebih sederhana. Beban terberat kita saat itu mungkin hanyalah PR matematika atau memikirkan cara membalas pesan singkat dari gebetan.

Lalu, kita tersadar dan kembali ke masa kini. Kita melihat kalender dan bergumam, "Perasaan baru kemarin tahun baru, kok sekarang sudah akhir tahun lagi?"

Fenomena ini sering kali membuat kita merenung bersama. Kenapa ya, masa lalu itu selalu terasa lebih nyaman? Dan yang lebih aneh lagi, kenapa saat kita masih kecil, rentang waktu satu tahun itu terasa sangat panjang dan lambat, sementara saat kita dewasa, waktu seolah berlari layaknya kereta ekspres yang kehilangan rem?

Tenang saja, teman-teman. Kita tidak sendirian merasakan ini. Ada alasan yang sangat logis dan emosional di balik fenomena ini. Ini bukan sekadar ilusi puitis. Ini adalah cara kerja mesin paling rumit di alam semesta yang sedang beroperasi di dalam tengkorak kita.

II

Mari kita bedah dulu soal "rasa nyaman" dari masa lalu. Sebenarnya, otak kita ini adalah editor film kelas Oscar yang sangat bias.

Dalam psikologi, ada sebuah konsep yang disebut Rosy Retrospection. Ini adalah kecenderungan kognitif di mana manusia mengingat masa lalu jauh lebih indah dan positif daripada kejadian aslinya. Otak kita secara aktif membuang ingatan tentang rasa bosan, cemas, atau frustrasi di masa lalu, dan hanya menyisakan "potongan adegan" terbaiknya saja. Jadi, masa kecil kita sebenarnya tidak seindah itu, otak kita saja yang pandai melakukan proses penyuntingan.

Sejarah juga mencatat hal yang menarik tentang ini. Tahukah teman-teman bahwa pada abad ke-17, nostalgia dianggap sebagai sebuah penyakit medis? Istilah ini pertama kali diciptakan oleh dokter asal Swiss, Johannes Hofer. Ia menggabungkan kata Yunani nostos (pulang) dan algos (sakit). Dulu, tentara bayaran Swiss yang jauh dari rumah sering mengalami depresi berat, menangis, hingga detak jantung tak beraturan karena merindukan kampung halaman. Mereka didiagnosis mengidap "penyakit" nostalgia.

Hari ini, sains membuktikan sebaliknya. Nostalgia bukanlah penyakit. Ia adalah mekanisme pertahanan diri. Saat kita sedang stres atau lelah menghadapi tuntutan hidup orang dewasa yang brutal, otak kita memanggil memori masa lalu sebagai selimut emosional. Kita bernostalgia untuk menenangkan sistem saraf kita yang sedang kewalahan.

III

Sekarang, kita masuk ke misteri kedua yang lebih membingungkan. Mengapa masa kecil yang nyaman itu terasa sangat lambat, sementara masa dewasa terasa terbang begitu saja?

Apakah waktu di alam semesta ini benar-benar berjalan lebih cepat? Tentu saja tidak. Putaran bumi pada porosnya masih sama. Satu hari tetap dua puluh empat jam. Namun, persepsi kita terhadap waktu telah bermutasi.

Coba kita ingat-ingat lagi. Saat kita berada di bangku sekolah dasar, rentang dari kelas satu menuju kelas dua terasa seperti sebuah epik yang panjang. Liburan sekolah selama sebulan rasanya tidak habis-habis. Tapi coba perhatikan hidup kita dalam lima tahun terakhir. Sebagian dari kita mungkin merasa tahun 2019 dan 2024 itu seolah hanya berjarak beberapa kedipan mata.

Ada sesuatu yang berubah di dalam anatomi otak kita seiring bertambahnya usia. Sesuatu yang membuat jam biologis kita berdetak dengan ritme yang sama sekali berbeda. Dan jawaban atas misteri ini, rupanya bersembunyi di balik cara otak kita merekam data.

IV

Inilah fakta ilmiah di balik waktu yang berlalu cepat. Jawabannya terletak pada dua hal: matematika proporsional dan kelaparan otak akan hal baru.

Pertama, mari kita bicara soal matematika. Ada teori psikologi yang disebut Proportional Theory. Bayangkan saat kita berusia 5 tahun. Satu tahun bagi anak usia 5 tahun adalah 20% dari seluruh hidupnya. Itu porsi waktu yang sangat besar! Namun bagi kita yang berusia 30 tahun, satu tahun hanyalah sekitar 3% dari hidup kita. Secara matematis, otak kita menganggap satu tahun di masa dewasa sebagai fraksi yang sangat kecil dari total eksistensi kita.

Kedua, dan ini yang paling krusial, otak kita bekerja seperti kamera yang merekam video. Saat kita masih kecil, dunia adalah tempat yang penuh dengan hal pertama. Pertama kali naik sepeda, pertama kali makan es krim rasa baru, pertama kali melihat pantai. Saat kita menghadapi hal baru atau novelty, otak kita harus memproses banyak sekali informasi. Jaringan saraf kita bekerja ekstra keras. Karena otak memproses begitu banyak data dalam satu momen, momen itu terasa sangat padat dan panjang.

Namun saat kita dewasa, hidup kita didominasi oleh rutinitas. Bangun pagi, ke kantor lewat rute yang sama, bekerja, pulang, tidur. Karena otak kita sudah hafal dengan pola ini, otak masuk ke mode autopilot. Otak berhenti merekam detail. Tidak ada memori baru yang tebal. Akibatnya, saat kita menoleh ke belakang, otak kita melihat ruang kosong dalam ingatan. Dan ruang kosong itu diterjemahkan oleh otak sebagai "waktu yang berjalan sangat cepat".

V

Jadi, teman-teman, ketika kita mendadak merasa sedih karena waktu terasa berlalu begitu cepat dan merindukan masa lalu, sadarilah bahwa otak kita sedang berfungsi dengan sangat normal.

Nostalgia adalah cara otak memeluk kita dari dalam. Ia berbisik bahwa kita pernah bahagia, dan oleh karena itu, kita pasti bisa bahagia lagi. Masa lalu memang nyaman karena ceritanya sudah selesai dan kita sudah tahu akhir kisahnya. Berbeda dengan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.

Namun, memahami sains di balik persepsi waktu ini memberi kita sebuah kekuatan baru. Jika kita ingin waktu terasa lebih "lambat" dan lebih bermakna di masa dewasa ini, kuncinya bukanlah dengan meratapi masa lalu. Kuncinya adalah dengan keluar dari rutinitas.

Kita harus terus memberikan first times atau "momen pertama" bagi otak kita. Bacalah buku dengan genre yang tidak pernah kita sentuh. Ambil rute jalan yang berbeda saat pulang kerja. Cicipi makanan yang belum pernah kita coba. Bicaralah dengan orang asing. Pelajari keahlian baru yang membuat kita merasa bodoh lagi seperti anak kecil.

Kita tidak bisa memutar balik waktu ke masa lalu yang nyaman. Tapi dengan memahami cara kerja pikiran kita, kita bisa membuat masa kini berjalan sedikit lebih lambat, sedikit lebih berkesan, dan kelak, layak untuk dinostilagiakan.